Judul : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tebal : 496 h
Peresensi : Fitri Mulyaningsih
The Kite Runner merupakan buku novel yang menceritakan tentang kisah
persahabatan. Kisah dalam novel ini mengangkat nilai kehidupan seperti pengorbanan,
ketulusan, cinta, persahabatan dan kaya akan nilai moral dan sosial lainnya.
Tokoh utama yang menjadi pembangkit cerita adalah Amir dan Hassan.
Kisah menceritakan hubungan yang
terjadi pada dua orang anak dari dua bangsa yang berbeda di Afganisthan. Amir
merupan anak Baba, Baba adalah sebutan ayah dari anaknya. Amir terlahir dari
bangsa Pasthun. Baba amir merupakan salah satu orang kaya yang berada di Kibul
Afganisthan. Sayangnya sang ibu sudah
meninggal saat melahirkan amir ke dunia. Adapun Hassan adalah anak dari Ali,
seorang bangsa Hazara yang merupakan kaum minoritas dan terkucilkan. Hassan
sejak kecil sudah ditinggal ibunya yang sengaja meninggalkannya karena
profesinya sebagai penyanyi dan wanita penghibur. Kedua bayi ini disusukan pada
seorang perempuan berasal dari Hazara. Orang yang satu sepersusuan dianggapm
sudah memiliki ikatan persaudaraan, sama halnya denga Amir dan Hassan, mereka
adalah bersaudara. Ayah Amir dan Hassan ternyata memiliki hubungan sebelumnya,
sampai anak mereka tumbuh bersama-sama
di rumah Baba Amir. Ali menjadi seorang pengabdi di rumah Baba, begitu juga
Hassan, dialah anak berbibir sumbing yang sangat setia menemani Amir dan
mendengarkan karya puisi dan dongengnya.
Amir dan Hassan sering bermain
bersama. Amir memiliki karakter yang berbeda dengan sang baba, dia lebih suka
menciptakan puisi, membaca buku di dalam kamar dibandingkan dengan kegiatan di
luar. Hal ini menjadi salah satu kekecewaan baba kepada anaknya, Amir.
Mengetahui hal ini, Amir sedih dan merasa kurang kasih sayang dari orang
tuanya. Hassan memiliki fisik yang kuat dan jago dalam menembakan ketapel dan
mengejar layang-layang. Walaupun kurus tapi dia memiliki hati yang tulus,
santun, dan kerja keras, akan tetapi buta
huruf. Banyak kecemburuan yang drasakan Amir ketika Baba membagi kasih
sayangnya kepada Hassan. Akan tetapi Amir tidak menyatakan itu secara langsung
kepada baba maupun Hassan
Sebagai seorang Hazara, Hassan banyak
mendapat cemoohan akan nasibnya yang akan terus terpuruk dan akan terus menjadi
pengabdi. Hassan menganggap Amir sebagai sahabat, namun Amir tidak pernah
mengajak Hassan saat berkumpul dengan
anak-anak teman babanya. Sama sekali Hasan
tidak memiliki pikiran buruk dari semua itu. Assef anak pilot yang nakal
mengatakan, “Amir hanya membutuhkanmu saat dia tidak memiliki seorang teman,
dia tidak akan berkorban apapun untuk mu”. Hassan rela dipukuli dan dibully
Assef dan kawan-kawan untuk memperjuangkan layang-layang biru yang putus saat
turnamen layang-layang di musim dingin. Melihat kondisi Hassan yang dikepung,
Amir dengan pengecut menyelamatkan diri dengan menjauh. Dalam keadaan babk
belur, Hassan memberikan layang-layang tersebut kepada Amir. Dengan
menyembunyikan perasaan pengecut Amir pura-pura tidak tahu tentang apa yang sebenarnya
terjadi. Disinilah nyata penulis meceritakan betapa tulusnya seorang Hassan
yang rela dikeroyok Assef dan kawan-kawan demi memenangkan Amir dalam turnamen.
Buku ini keren, kaya akan nilai moral
yang dpat diambil. Alur bacanya bagus dan mudah dipahami. Pembaca merasa
tersentuh dengan ceritanya dan rekomendasi sekali menjadi buku bacaan yang perlu
dibaca.

Komentar
Posting Komentar